GNNINDONESIA.COM, JAKARTA — Shrimp Club Indonesia (SCI) Sumatera Barat menyiapkan sejumlah program untuk memperkuat industri budidaya udang di daerah setelah Fikhri Reza Vahlefi dikukuhkan sebagai ketua dalam rangkaian FARM 2026 di Jakarta, Selasa (29/9/2026). Fikhri dikukuhkan oleh Ketua Umum SCI Prof. Dr. Ir. Andi Tamsil, MS., IPM. Pengukuhan SCI Sumatera Barat dilakukan bersamaan dengan pembentukan kepengurusan SCI di Aceh dan Bangka Belitung. Fikhri mengatakan kepengurusan yang dipimpinnya akan menyusun program secara bertahap, mulai dari jangka pendek, menengah hingga jangka panjang. Salah satu fokusnya adalah meningkatkan penerapan teknologi budidaya yang sesuai dengan karakteristik Sumatera Barat. Menurut Fikhri, perbedaan kondisi lingkungan membuat teknologi budidaya tidak dapat diterapkan secara seragam di semua daerah. “Teknisi atau teknologi yang berhasil di daerah lain belum tentu memberikan hasil yang sama ketika diterapkan di Sumatera Barat. Karena itu, kita perlu mencari formula yang memang cocok dan spesifik untuk kondisi Sumatera Barat,” jelasnya. Untuk itu, SCI Sumatera Barat akan mendorong pengembangan pengetahuan mengenai berbagai metode budidaya, termasuk pemanfaatan aditif, bakteri serta pengelolaan tambak yang disesuaikan dengan kondisi lokal. Program penguatan tersebut juga akan ditopang dengan pendataan tambak. Fikhri mengatakan pendataan diperlukan untuk mengetahui jumlah tambak, kapasitas produksi, kondisi teknis dan persoalan yang dihadapi pembudidaya. “Kita perlu mendata kembali tambak-tambak yang ada di Sumatera Barat. Data tersebut nantinya bisa menjadi dasar untuk menyusun program dan menyampaikan kondisi riil di lapangan kepada pemerintah,” ujarnya. Selain pengembangan teknologi dan pendataan, SCI Sumatera Barat juga akan memperkuat komunikasi antar pelaku usaha. Fikhri menilai industri udang memiliki pelaku usaha dengan skala yang beragam sehingga diperlukan wadah yang dapat mempertemukan berbagai kepentingan. SCI juga akan membuka ruang kolaborasi dengan pemerintah, perguruan tinggi serta tenaga ahli. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kemampuan teknis pembudidaya sekaligus mendorong pengembangan metode budidaya yang sesuai dengan kondisi daerah. Dari sisi pengembangan pasar, Fikhri melihat Sumatera Barat memiliki peluang karena letaknya relatif dekat dengan Riau dan Malaysia. “Kita melihat Sumatera Barat memiliki peluang karena lokasinya dekat dengan Riau dan Malaysia. Ke depan, salah satu yang ingin kita dorong adalah bagaimana produk udang dari Sumatera Barat bisa memiliki peluang masuk ke negara-negara tersebut,” katanya. Meski demikian, Fikhri menilai peningkatan daya saing produk harus dimulai dari penguatan produksi dan kualitas di tingkat tambak. Ia juga berharap pemerintah mempertimbangkan keberlangsungan pembudidaya lokal dalam kebijakan perdagangan udang. “Kalau kita memiliki produksi udang sendiri di Indonesia, tentu perlu ada kebijakan yang memperhatikan keberlangsungan pembudidaya dan industri udang dalam negeri,” tuturnya. Fikhri menegaskan SCI Sumatera Barat akan berupaya menjalankan fungsi sebagai wadah komunikasi, koordinasi dan pengembangan kapasitas pelaku industri udang. Melalui program tersebut, SCI Sumatera Barat diharapkan dapat membantu pembudidaya menghadapi tantangan teknologi, produksi, kebijakan dan pemasaran secara lebih terorganisasi. Terkait Navigasi pos Khoe Ribka: SoliFest VID 2026 Ajarkan Siswa Menang dengan Rendah Hati dan Kalah Tanpa Menyerah