Aktivis Perempuan S. Yulianti Serukan May Day Damai Tanpa Provokasi dan Kerusuhan
GNNINDONESIA.COM, JAKARTA, 1 Mei 2026 — Aktivis perempuan, S. Yulianti, menyerukan agar peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) dilaksanakan secara damai tanpa adanya provokasi yang dapat berujung pada kerusuhan. Ia menegaskan bahwa kehadiran perempuan dalam aksi May Day merupakan bentuk solidaritas sekaligus upaya menjaga agar penyampaian aspirasi berlangsung tertib, elegan, dan sesuai aturan.
Menurut S. Yulianti, aksi May Day tidak dapat berjalan efektif jika hanya dilakukan oleh kelompok buruh semata. Ia menilai bahwa keterlibatan masyarakat sipil dan mahasiswa dapat memperkuat suara buruh sehingga lebih didengar oleh pemerintah. Namun demikian, ia juga mengingatkan adanya risiko yang harus diwaspadai, terutama potensi penyusupan pihak-pihak yang berkepentingan memicu tindakan anarkis.
“Kerusuhan dalam sebuah aksi, khususnya yang memanfaatkan momentum May Day, bukanlah sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba. Ada kepentingan politik, bisnis, dan lainnya di baliknya. Bahkan, massa yang terlibat seringkali bukan memiliki agenda yang jelas, melainkan kelompok yang dimobilisasi untuk melakukan kekerasan,” ujar S. Yulianti dalam keterangannya.
Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut harus menjadi perhatian serius bagi seluruh elemen, baik buruh, masyarakat, maupun mahasiswa, agar tidak terjebak dalam skenario yang merugikan banyak pihak.
S. Yulianti juga mengkritik pihak-pihak yang dengan sengaja menggerakkan massa demi kepentingan tertentu, terlebih di tengah kondisi ekonomi yang masih menantang. Ia menilai bahwa kerusuhan hanya akan memperburuk situasi dan berdampak langsung kepada masyarakat luas.
“Dalam kondisi ekonomi saat ini, masyarakat tidak boleh semakin dipersulit. Kerusuhan hanya akan memperburuk keadaan, dan yang paling dirugikan tetap masyarakat itu sendiri,” tegasnya.
Di sisi lain, ia menekankan bahwa kebebasan berpendapat melalui aksi demonstrasi merupakan hak yang dijamin oleh undang-undang. Namun, kebebasan tersebut tidak boleh disalahgunakan menjadi alat provokasi yang memicu kerusuhan.
“Kita sepakat bahwa kritik itu penting, bahkan diperlukan. Namun ketika ada agenda tersembunyi yang sengaja memicu kerusuhan, hal tersebut harus kita tolak bersama,” tambahnya.
Ia juga mengajak masyarakat, khususnya mahasiswa dan kelompok kritis lainnya, untuk tetap menyampaikan aspirasi secara cerdas, konstruktif, dan tidak mudah dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan tertentu.
Dalam momentum May Day ini, S. Yulianti berharap seluruh elemen buruh dapat memperingati hari tersebut dengan tertib dan damai.
“Silakan menyampaikan aspirasi karena itu adalah hak. Namun jangan sampai terpancing provokasi yang justru merugikan kita semua. Menjaga ketertiban dan keamanan adalah tanggung jawab bersama demi terciptanya iklim demokrasi yang sehat dan kondusif di Indonesia. Jika terjadi kerusuhan, dampaknya akan luas dan kembali dirasakan oleh masyarakat,” pungkasnya.
